29th July 2014

Cerita ini berasal dari tanah Minangkabau yang terletak di kaki Gunung Marapi.

cerita-malam-pertama-pengantin-baruDisebuah desa hiduplah dua anak manusia yang baru beranjak dewasa. Dikarenakan hubungan meraka sudah terlalu akrab dan sudah dianggap tidak wajar lagi, maka kedua orang tua bermaksud menikahkan kedua anak manusia tersebut. Pertemuan demi pertemuan sudah dilakukan untuk menetapkan hari H-nya. Dimalam pertama hari pernikahannya tidurlah kedua mempelai diatas peraduannya tanpa melakukan apa-apa. Fajar diufuk timur sudah mulai keluar dan ayampun sudah berkok, tandanya hari sudah siang.

Dipagi nan indah itu datanglah Ibu dari mempelai laki-laki ingin menanyakan pada anaknya:

Ibu : Udin, kau apakan si Upik tadi malam?

Udin : Ndak ado do Mak, kami lalok sajonyo (Tidak diapa-apikan, kami tidur saja)

Ibu : Bisuak malam wa’ang tidua di ateh si Upik (Besok malam kamu tidur diatas si Upik)!

Malam kedua. Karna ingat pesan dari ibunya, maka tanpa basa-basi si Udin naik ketempat tidur dan lansung menaiki istrinya (tidur diatas perut istrinya). Karena sudah tak tahan menahan sakit si Upik menjerit-jerit, namun si Udin tetap tidur diatas perut istrinya, sampai pagi. Dan esok pagi Ibunya datang lagi menanyakan:

Ibu : Udin, Ba’a lai lamak rasonyo?, ba’a kato si Upik (Udin, Gimana enak rasanya?, apa kata si Upik?)

Udin : Kalau Udin memang lamak Mak, tapi si Upiak mamakiak-makiaknyo (Kalua udin memang enak, tapi si Upik menjerit-jerit karna kesakitan)

Ibu : Wa’ang apoan memangnyo (Kamu apakan sebenarnya)

Udin : Lalok ajonyo diateh paruiknyo tu (Cuma tidur diatas perut dia)

Ibu : Bodoh wa’ang (Bodoh kau).

Pada siangnya, dengan rasa kasihan pada anak-anaknya maka si Ibu ambil jalan pintas untuk mengajari Si Udin anaknya, bagaimana caranya orang berumah tangga (bersebadan), terjadilah dialok:

Ibu : Udin, beko malam sabalun lalok wa’ang sabuikan PESAWAT SIAP MENDARAT baulang-ulang. (Udin, nanti malam sebelum tidur kamu bilang sama si Upik PESAWAT SIAP MENDARAT berulang-ulang)

Udin : Jadilah mak. (Baiklah Mak)

Malam ketiga. Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, maka kedua penganten itu memasuki kamar tidurnya, Sifat Udin yang tidak pelupa akan nasehat Ibunya maka sebelum tidur si Udin mengucapkan PESAWAT SIAP MENDARAT, PESAWAT SIAP MENDARAT, PESAWAT SIAP MENDARAT, namun tak ada respon dari si Upik karena dia tidak diajari untuk menjawab apa oleh Ibu si Udin. Pagi harinya Ibu Udin datang lagi dan menanyakan apa tanggapan si Upik.

Ibu : Udin, ba’a kato si Upik mandanga kecek wa’ang (Udin, apa kata si Upik mendengar ucapan kau)

Udin : Diam sajo inyo mak, lah bosan awak mengecek itu tapi inyo diam sajo (Diam saja dia Mak, Sudah bosan Udin ucapkan kata-kata itu)
Siang harinya Ibu Udin datang menemui si Upik untuk mengajarinya, maka terjadi dialok;

Ibu : Upik, kalu si Udin mangecekan PESAWAT SIAP MENDARAT, mako Upik jawab LANDASAN SIAP MENERIMA. (Upik, kalua si Udin ucapkan kata PESAWAT SIAP MENDARAT, maka Upik jawab LANDASAN SIAP MENERIMA)

Upik : Jadilah Mak (Baiklah Mak)

Malam keempat. Malam ini bertepatan dengan malan minggu, jadi penganten ini agak lambat tidurnya. Malam telah larut sekitar jam 12an pasangan ini memasuki kamar tidurnya. Sudah sekian lama mereka berbareng ditempat tidur namun si Udin tidak pernah mengatakan PESAWAT SIAP MENDARAT, maka si Upik ambil ini siatif untuk mengatakan LANDASAN SIAP MENERIMA 3x, dengan tegasnya si Udin menjawab PESAWAT RUSAK!!!!!!. (sumbercerita.com)